by

Ketua Komisi 3 DPRA Ini Adalah Mantan Perwira TNI Angkatan Udara

-Hukum, Politik-39 views


canindonesia.com (Banda Aceh)Dulu, nama lengkap lelaki itu adalah Lettu. Tek. Effendi. Perwira TNI angkatan udara ini kini menjadi ketua komisi 3 di lembaga legislatif Propinsi Aceh mewakili partai Aceh, sebuah partai tempat berkumpulnya para mantan kombatan. 

Lelaki energik berperawakan sederhana ini berkisah panjang lebar perjalanan hidupnya yang penuh liku. Dirinya sempat menjadi perwira angakatan udara. Masa muda effendi menjadi tidak sepurna. Usia 25 hingga 30 tahun dilewatinya di lembaga Pemasyarakatan Madiun. Pada bulan Agustus 2005 Effendi dibebaskan berkaitan dengan perjanjian damai antara pemerintah RI dan GAM.
Setelah  menyelesaikan kuliahnya di Politeknik Unsyiah di Bukit Rata Lhokseumawe pada tahun 1996,  Dia terobsesi untuk bekerja di PT Astra Motor Indonesia, sebuah perusahaan Otomotif berskala internasional. Berbekal keahliannya di jurusan teknik mesin, Effendi berangkat ke Jakarta pada tahun 1996. Selama di Jakarta, ia mempersiapkan dirinya untuk mengikuti seleksi Astra. Cita-citanya tak terbendung. Sejak kuliah, ia mendapatkan beasiswa dari perusahaan profit Mobil Oil, salah satu perusahaan multi nasional terbesar di Aceh.  “Pantas, sayapun pernah membayangkan bekerja di pengobaran minyak lepas pantai” kenang Effendi.
Namun kemudian, atas saran dari sahabat-sahabatnya, ia mengikuti test akademi militer pada tahun yang sama dan ia diterima di TNI angkatan udara. Menjadi perwira karir adalah dunia baru baginya. Lulus dari akademi militer, ia ditugaskan di Skuadron Iswahyudi di Madiun. Effendi bernasip baik. Menjadi seorang perwira yang berdedikasi, dan cerdas. Ia ditugaskan mengikuti beberapa pendidikan khusus seperti manajamen penerbangan di pangkalan udara Halim Perdana Kesuma, dan juga teknik penerbangan di pangkalan udara Husein Sastranegara serta pendidikan perwira lainnya.
Peristiwa tsunami dan perjanjian damai di Helsinky, Swedia, akhirnya menjadi hari baru bagi dirinya. Pemerintah memberikan amnesti bagi tahanan politik. Effendi dibebaskan dan kembali ke Aceh. Ia bekerja dengan NGO dan pernah menjabat sebagai kepala Program dan juga kepala Monev di BRR regional 1 terkait rehab rekon Aceh-Nias pasca Musibah Tsunami menerjang daratan Aceh. Setelah itu ditugaskan sebagai Staff Khusus wakil badan Pelaksana BRR Nad-Nias (jabatan Eks officio Gubernur Aceh).
Setelah pilkada pertama yang diikuti mantan kombatan GAM dan Irwandi Yusuf terpilih sebagai gubernur, Effendi menjadi ADC bagi Irwandi selama satu tahun pada tahun 2008-2009.
Kemampuan bersosialisasi dan memiliki jaringan di Partai Aceh, Effendi terpilih menjadi anggota legislatif di DPRK Kabupaten Bireuen pada tahun 2009 hingga 2014. Tahun 2014, ia kembali terpilih menjadi anggota Dewan di Tingkat propinsi melalui kedaraan politik yang sama. Partai Aceh adalah salah satu partai lokal yang beranggotakan mantan kombatan gerakan Aceh Merdeka.
Kini, ia bukan lagi perwira angkatan udara dari skuadron tempur Iswahyudi Madiun. Ia telah memilih berjuang secara politik di lembaga legislatif DPRA Aceh. Bahkan kini Effendi menduduki jabatan ketua komisi 3 di lembaga legislatif tertinggi di propinsi ujung barat Sumatera ini. Di komisi itu ia akan mengurus masalah keuangan, termasuk investasi. Bagi dirinya, sampai saat ini, ia ingin Aceh bermartabat sebagaimana cita-cita para indatu. Bermartabat dalam bidang agama, pendidikan, budaya, ekonomi, politik dan sebagainya. “Agama, Budaya, pendidikan, dan segala hal harus tegak di Aceh.  Aceh bermartabat adalah cita-cita saya” katanya diplomatis.(NH)


Comment

News Feed