by

Rina Suryani Oktari, Pakar Mitigasi Bencana Aceh Yang Mendunia

Rina Oktari dalam salah Satu seminar Internasional

CANINDONESIA.COM- Memberikan manfaat bagi orang lain, itulah yang ingin dipersembahkan seorang perempuan bernama Rina Suryani Oktari, Putri Aceh yang akrab dipanggil Okta. Perempuan kelahiran 1983 ini menjadi koordinator Klaster Riset Disaster Education and Management, Tsunami & Disaster Mitigation Research Centre (TDMRC) Universitas Syiah Kuala. Sebuah lembaga mitigasi kebencanaan yang dibentuk pasca musibah Tsunami menerjang Aceh tahun 2004 silam.

Jabatan profesi ini menjadikan dirinya aktif bersosialisasi soal kebencanaan baik ditingkat lokal maupun di forum internasional.
 
Salah satu yang paling berkesan bagi Okta adalah saat dirinya ditunjuk sebagai Convenor pada acara International Climate Change di Roterdam Belanda tahun lalu.
 
“Saat itu saya bertindak sebagai convenor sejak bulan Maret 2015 sebagai reviewer Abstrak maupun proposal Special Session yang masuk. Di sana saya menyusun agenda atau jadwal program untuk tema Disaster Risk Reduction dan menjadi pembicara untuk sesi Disaster Prepardness dan memfasilitasi Round Table Discussion” kata Okta saat ditemui di sela aktivitasnya sebagai Dosen Universitas Syiah Kuala.
 
Istri dari dr. Maimonar ini juga menjadi juri untuk Young Scientist Best presentation award dalam even dimaksud. Total peserta yang hadir 1700 orang dari lebih dari 100 negara.
Pekerjaan yang sangat berat tentunya, karena abstrak dan proposal yang masuk juga banyak. Ada sekitar 900 abstrak dan 190 proposal yang masuk.
Menariknya, Okta adalah satu-satunya Convenor dari Indonesia dari total 50 convenor yang ada.
 
Perempuan energik ini menceritakan pengalamannya diundang menjadi reviewer di beberapa jurnal internasional bereputasi.
“Ada artikel atau paper yang authornya dari Harvard University yang Okta review untuk dinilai apakah accepted untuk mengikuti conference atau nggak, afiliasinya Harvard University, tapi tidak ditulis apakah mahasiswa atau malah professor “ katanya rendah hati.
 
Okta juga menyebutkan ada beberapa kegiatan yang sangat membuat dirinya berkesan, diantaranya lawatannya di Islamabad dan Kashmir pada tahun 2006 dalam acara Training disaster management; Kyoto Jepang tahun 2014, pada acara Pan Asia Risk Reduction (PAAR) Fellowship program; juga di Rotterdam tahun 2016 pada event Adaptation Futures.
 
Sebagai ibu dari lima orang anak, Okta ternyata masih mendapat beberapa amanah  lain, diantaranya, sebagai Kepala Bagian Family Medicine, fakuktas kedokteran Unsyiah, Kepala Laboratorium Disaster Education, TDMRC Unsyiah, Anggota Pusat Pengembangan Pembelajaran, Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Penjaminan Mutu (LP3M) Unsyiah.
Okta ditunjuk sebagai Fasilitator Nasional, Sekolah/ Madrasah Aman Bencana (SMAB), terlibat aktif di Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Pada saat yang sama menjabat sebagai Humas pada Rumah Amal Masjid Jami’ Unsyiah. Tentu sangat melelahkan.
 
 
Bagi okta, kelelahannya ini terobati karena motivasi ingin memberikan manfaat bagi orang lain, khususnya kelompok yang rentan saat bencana terjadi, termasuk anak-anak, ibu-ibu, juga kaum difable. “itulah sebabnya, fokus riset yang saya lakukan selama ini lebih ke pendidikan kebencanaan. Bagaimana upaya untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana, termasuk komunitas sekolah” 
 
Rina suryani oktari adalah salah satu SDM Aceh yang telah menarik perhatian dunia melalui aktivitas dan kepakarannya di bidang mitigasi bencana. 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Comment

News Feed