Mewaspadai Terulangnya Pengkhianatan Salafi Seperti Di Mesir

Moersi di Dalam Penjara Rezim Kudeta Berdarah

canindonesia.com – (dunia) Salafi adalah sebuah gerakan Islam yang dinisbahkan kepada pemurnian ajaran Islam. Di indonesia, gerakan salafi mengklaim diri sebagai pengawal sunnah. Mereka melakukan pemurnian ajaran Islam dari perbuatan kurafat, bidah dan syirik. Melalui propaganda dan ajarannya, gerakan ini kerap bersikap keras kepada selain dari kelompok mereka.
Di beberapa tempat, termasuk di Aceh, Salafi bahkan diusir dari perkampungan oleh masyarakat setempat karena dianggap selalu berbeda dan sering menuduh sesat kepada masyarakat.
Jamaah Salafi dituding berusaha memisahkan ummat Islam dengan ulama lain selain dengan ulama dari kalangan mereka sendiri. Bahkan dalam beberapa pernyataannya, salafi berhadapan dengan isu besar ummat Islam di Indonesia termasuk aksi Bela Islam 212. Beberapa Aksi Bela Islam di Indonesia adalah aksi terbesar dalam sejarah ummat manusia yang menuntut pemerintahan Jokowi bersikap tegas dan adil kepada penista agama. Aksi ini menjadi perhatian terbesar di seluruh dunia.
Dalam beberapa pernyataan melalui video pendek, ‘ustad sunnah’ Salafi mengolok-olok dan menyebut gerakan aksi bela Islam yang menghadirkan ummat Islam berjumlah jutaan orang sebagai perbuatan bathil dan bodoh. Demo tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah. Untuk palestina, sampai kiamatpun tidak akan menghasilkan apa-apa, kecuali macet dan kerusakan” kata mereka.
Diduga pendukung salafi membagikan info grafis yang menyebutkan ulama mereka adalah ulama sunnah dan ulama lainnya bukan ulama sunnah. Pernyataan ini dikecam oleh netizen yang mengkhawatirkan semakin jauh dari persatuan ummat.
Beberapa info grafis yang mereka bagikan di sosial media, menunjukkan sikap mereka mendukung pemerintahan Jokowi dengan dalil bahwa pemerintah haram untuk di demo. Pernyataan tendensius kontraproduktif disuarakan ditengah kemarahan rakyat atas kondisi sosial politik ummat Islam di Indonesia yang mengkhawatirkan atas kebijakan represif pemerintah yang menangkapi para ulama yang dicintai ummat.
Salah satu akun pendukung salafi di sosial media mengatakan, wajib bagi kita mendukung pemerintahan meskipun pemerintah memukul kita dan merampas harta kita’.
Apa yang terjadi di Indonesia, ternyata juga pernah terjadi di Mesir. Jamaah Salafi Mesir juga mengharamkan Demo kepada pemerintah yang sah Hosni Mubarak, meskipun zalim.
Namun dalam perkembangan politiknya Salafi akhirnya mengambil peran dengan menjadi partai politik bernama An Nur dan ikut serta dalam pemilu.
Partai Salafi An Nur mempertahankan sikapnya dengan bersikap keras bahkan di parlemen. Mereka suarakan azan di ruangan sidang saat digelar sidang dewan. Mereka juga konsisten menggunakan atribut Islam dan tentu saja mengharamkan demo.
Namun saat kudeta berdarah terjadi, dan ribuan rakyat Mesir dibunuh oleh kudeta berdarah jendral As Sisi, Partai An Nur ini malah lebih mendukung kudeta berdarah dari pada kepemimpinanan ummat yang diraih oleh ummat Islam melalui demokrasi paling demokratis pertama di Mesir, dimana seluruh ummat Islam terlindungi dan penjara dikosongkan dari ulama-ulama yang dituduh makar. Pemimpin Mesir baru hasil pemilu, presiden Muhammad Moersi dikudeta. Partai An Nur setuju Kudeta, kudeta lebih kasar dari sekedar demonstrasi.

Sebagian besar pimpinan partai An Nur setuju mendukung As Sisi dan menyebutkan Ikhwanul Muslimin telah tamat.
Para pengamat Timur tengah mengatakan tak ada alasan apapun yang sah mereka (Salafi) boleh membelakangi ummat Islam Mesir.
Salafi An Nur dan Salafi di Indonesia mungkin punya sikap yang sama terhadap Isue ummat Islam. Dalam kontek pemerintahan Jokowi dan ummat Islam disisi lain, Salafi di Indonesia bisa berubah menjadi partai politik, dan kembali berhadapan dengan  ummat Islam demi sebuah ambisi.
Sikap keras dan kakunya Salafi selama ini ternyata tidak masuk dalam radar kriteria pemerintah sebagai ormas atau jamaah yang diincar untuk dibubarkan karena  membahayakan keutuhan negara.
Sebelumnya, ustadz sunnah salafi bernama Syafiq Basalamah melontarkan tuduhan, Ikhwanul Muslimin adalah ibu dari teroris ISIS. Pernyataan ini langsung mendapat respon dari Ulama moderat Saudi, bahwa, selama ini justru Salafilah yang lebih memenuhi ciri ISIS, dengan segala sikap kaku, keras, dan suka mengkafirkan. Sedangkan Ikhwanul Muslimin dalam sejarahnya justru secara aktif mendukung Indonesia merdeka dan berjuang dengan cara paling elegan tanpa senjata. Tuduhan Salafi ini tentu berbahaya bagi Ummat Islam.

admin Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *