by

Jokowi Sibuk Bangun Infrastruktur, Lupa Revolusi Mental

-Politik-13 views
Fadli Zon

Canindonesia.com – (Jakarta) Politisi Gerindra yang juga Paksana Tugas Ketua Dewan Perwakilan Rakyat  RI,  Fadli Zon menilai,  pemerintah inkonsisten dan Indonesia  dipenuhi khabar yang tidak menggembirakan selama 2017. Menurutnya ini tidak lepas dari sistem kerja dan konsep pembangunan Jokowi yang tidak jelas.

Fadli menunjuk pada Jargon pembangunan Jokowi yang inkonsisten.

“Ini bisa kita lihat dari jargon yang dibangun. Saat naik, pemerintah mengusung jargon Revolusi Mental, seolah itu akan jadi blue print kerja perintah kerja selama lima tahun. Tapi kemudian mereka bangun ternyata adalah infrastruktur fisik. Jadi, antara wacana yang diproduksi dengan praktik yang dikerjakan tidak nyambung,” kata Fadli dalam keterangan tertulisnya, hari ini, Minggu (31/12/2017).

Ada dua hal yang menjadi sorotan Fadli kepada pemerintahan Jokowi, pertama,  soal Jargon revolusi mental. Kedua,  soal kejayaan ekonomi berbasis Maritim.

Awalnya, Fadli Zon mengira Revolusi Mental itu akan jadi sejenis gagasan untuk pembangunan sumber daya manusia dari David Korten. Gagasan itu adalah kritik terhadap konsep pembangunan ekonomi yang berorientasi mengejar pertumbuhan dengan mengabaikan aspek pembangunan manusia dan lingkungan.

“Tapi dugaan itu ternyata keliru. Pemerintah sendiri kini bahkan tak pernah menyebut lagi jargon Revolusi Mental tersebut,” kata Fadli.

Inkonsistensi juga, lanjut Fadli, bisa dilihat dari jargon pembangunan maritim. Ia melihat, pemerintah justru lebih fokus membangun infrastruktur di darat.

“Mau mengembalikan kejayaan ekonomi maritim tapi kok yang dibangun adalah jalan tol di darat? Lebih aneh lagi, pemerintah malah hendak melepas pengelolaan 20 pelabuhan ke pihak swasta,” ujar Fadli.

Bagi Fadli, inkonsistensi serta paradoks-paradoks itu menunjukkan pembangunan ekonomi yang dilakukan oleh pemerintah selama ini sebenarnya memang tak punya konsep. Tak mengherankan jika sepanjang tahun 2017 ini rapor ekonomi pemerintah cukup buruk.

Menurut catatan Fadli  Pertumbuhan ekonomi tahun ini diperkirakan akan bertahan di angka 5,05 persen. Angka ini tak jauh berbeda dengan pertumbuhan tahun 2016 yang sebesar 5,02 persen. Pertumbuhan ekonomi Indonesia stagnan.

Tutupnya sejumlah supermarket dan gerai ritel, lanjut Fadli, menunjukkan daya beli masyarakat memang benar-benar sedang tertekan. Menurut dia, pemerintah harus menyadari kebijakan fiskal yang ketat dalam tiga tahun terakhir tak bagus bagi pemulihan ekonomi dan daya beli masyarakat.

Seharusnya anggaran negara diprioritaskan untuk merangsang kegiatan ekonomi masyarakat dan memecahkan persoalan mendesak jangka pendek. Tidak seharusnya di tengah-tengah keterbatasan anggaran dan penerimaan negara, pemerintah terus-menerus memprioritaskan anggaran untuk belanja infrastruktur.

Fadli juga menyoroti kelesuan ekonomi Indonesia yang semakin berat akibat beban kenaikan tarif dan pajak.

Fadli meminta Jokowi mengevaluasi kinerja menterinya.  Jika tidak, katanya,  Jokowinomics akan dikenang sebagai kegagalan.  kata Fadli.

 

Comment

News Feed