Amalan Tak Berpintu, Sebuah Renungan

Razuardi Essex, seniman dan birokrat

Oleh Razuardi Essex *

Salah satu pelajaran yang cukup populer dalam Islam terkait amalan berkelanjutan bagi setiap orang setelah wafat yakni meninggalkan anak yang shaleh, shadaqah jariyah, dan ilmu atau pengetahuan yang diajarkan.

Dari ketiga aspek itu, dua di antaranya relatif memerlukan upaya khusus bahkan pengorbanan materi yang hanya mungkin dilakukan oleh orang-orang tertentu. Namun satu dari ketiganya, yakni ilmu atau pengetahuan yang diajarkan, tidaklah membutuhkan pengorbanan materi, selain ketulusan untuk berbagi.

Aktivitas serupa ini kerap tersaksikan di Aceh pada era tahun 70-an hingga sebelumnya yakni kesediaan orang tertentu untuk mengajarkan al Quran kepada belia di desa tanpa mengharap imbalan. Artinya, untuk pengimplementasian ajaran Islam, khususnya berbagi pengetahuan, tidaklah sulit diterapkan dan dapat dilakukan di berbagai aspek dan tempat. Diyakini pula bahwa amalan yang terhimpun terus berkembang, bertambah banyak, sejauh bermanfaat dan dimanfaatkan oleh banyak orang secara terus menerus.

Di era millenium ke-3 ini, Pemilik Semesta Cakrawala, Allah SWT, memberi kemudahan akses berbagi pengetahuan melalui ‘loncatan dahsyat’ teknologi informatika. Tatkala minimalisasi hambatan komunikasi dari aspek ruang dan waktu terbuktikan, tersirat peluang berbagi semakin terbuka lebar. Upaya mendulang amalan seakan tak berpintu dan dapat dilakukan oleh semua.

Artinya, ajaran kemashlatan yang disajikan oleh setiap orang melalui kemudahan teknologi hari ini akan menuai imbalan kebajikan luar biasa di suatu sa’at kelak. Namun sebaliknya layak dicermati, tatkala praktek berbagi pengetahuan itu diimplementasikan dalam bentuk ujaran kebencian, penghujatan, ekspresi fitnah, dan lain sebangsanya.

 

*Penulis adakah Razuardi Essex,  seorang Seniman yang juga Birokrat di aceh

En Harais Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *