by

Eksistensi Dalam Tiroisme: Lôn Tuan Versus Lamiët

-Opini, Profil-33 views

 

Tgk Muhammad Hasan Di Tiro

Oleh Haekal Afifa *

Arthur Schopenhauer adalah salah satu Filsuf Eksistensialisme yang mempangaruhi pikiran F.W. Nietzsche, walau akhirnya dia bertolak belakang dengan sosok yang dikaguminya itu. Bagi Schopenhauer, hidup itu tragis, mengerikan dan sangat berbahaya hingga hidup harus ditolak atau lari dari kehidupan. Sebaliknya, bagi Nietzsche hidup itu harus di-IYA-kan dan dihadapi tanpa harus melarikan diri. Konsep ini dikenal dalam banyak narasi Nietzsche dengan Ja Sagën (Manusia Dyonisian).

Sebagai seorang ideolog yang sering bersinggungan dengan banyak filsuf, Tengku Hasan Tiro mengaktulisasi konsep Ja Sagën ini sebagai transvaluasi nilai untuk rakyat Aceh. Nilai inilah yang saya sebut dengan konsep: Dröe (diri).

Saya sepakat, Nietzsche menjadi salah satu orang yang mempengaruhi pemikiran Hasan Tiro. Tapi saya akan menolak, jika dikatakan Eksistensi manusia dalam pandangan Tiro sama dengan Nietzsche. Karena, Hasan Tiro adalah sosok pemikir dengan landasan premis dan silogis. Sebaliknya, Nietzsche seorang Aforis. Hasan Tiro tokoh Eksistensialis Pantheistik (tidak melepaskan diri dari Tuhan, dan Nietzsche Eksistensialis Atheistik (melepaskan diri dari cengkeraman Tuhan dan justru melawannya).

Dalam Tiroisme, seorang manusia harus berpikir dengan konsep dan “Moralitas Tuan” bukan dengan “Moralitas Lamiët”, atau apa yang disebut Nietzsche dengan Herdenmoral dan Herrenmoral.

Dalam Tiroisme, manusia harus memberi penghargaan kepada dirinya, dengan kelebihan yang diberikan Allah SWT seperti akal dan pikiran, dan meyakini bahwa setiap tindakan manusia (untuk kebaikan) harus selalu diperjuangkan, dan tindakan amoral harus dilawan.

Dari konsep “Dröe” itulah Hasan Tiro merumuskan bagaimana seorang manusia Aceh bertindak (Dominasi konsep ini ada dalam buku “Aceh Di Mata Dunia”). Filsafah “Lon Tuan” menjadi geneologi dan membentuk sistem moral manusia Aceh. Maka, dalam manusia Aceh, kata-kata “Lon Tuan” adalah manifestasi Herdenmoral (Mentalitas Tuan) yang selalu berlawanan dengan mentalitas Lamiët (Herrenmoral – Budak) yang tidak pernah berbuat dari dan untuk dirinya, hingga ia mampu menghargai dirinya sendiri. Maka, dalam pandangan orang yang bermental “Lamiët” seseorang akan memandang “Tuan-nya” unggul, pribadi yang independen, kuat, jenius dan mengancam eksistensi kelompoknya.

Dalam pandangan Tiroisme, saat ini manusia Aceh tidak lagi berpikir dengan konsep “Lon Tuan” yang sebenarnya sudah terbentuk jauh saat manusia itu berkembang dalam komunitas keluarganya. Bahkan sering kita mendengar, saat orang Aceh menanyakan seseorang dengan kata “Pat Neuh” dan ia selalu menjawab “Na Lon Tuan”. Bahkan di depan orangtuanya, manusia Aceh akan tetap beranggapan bahwa dia adalah tuan bagi dirinya.

Maka, jika seandainya hari ini anda mendapati murid Tengku Hasan Tiro yang bermental “Lamiët” bisa diasumsikan bahwa mereka “Lée teungëut ngôn Jaga” saat dulu mereka di latih di Tripoli, Libya. Karena memang, Tengku Hasan mengajari orang Aceh dengan “Mental lôn Tuan” dan menjadi Tuan atas dirinya, tanahnya, dan komunitasnya. Tapi, Höm chit lah!

Haekal Afifa

 

*penulis adalah penterjemah buku buku Hasan Tiro

Comment

News Feed