by

LGBT Dan Risiko Peningkatan HIV/AIDS

-Artikel, Opini-118 views

Oleh : dr.  Al Bukhari. 

Saat ini permasalahan Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) sedang menjadi sorotan masyarakat luas. Kehadiran kaum LGBT inipun menjadi pro dan kontra karena status orientasi seksual mereka yang menyimpang.

Keberadaan kaum LGBT sangat tertutup. Belum ada data pasti mengenai jumlah LGBT di Indonesia, tetapi diprediksi setiap tahun jumlah mereka akan semakin bertambah banyak. Diperkirakan saat ini jumlah LGBT di Indonesia sudah mencapai 3% dari seluruh populasi penduduk Indonesia, atau sekitar 7,5 juta orang.

Gerakan LGBT terutama homoseksual (lesbian dan gay) untuk bisa diterima dimasyarakat luas sebenarnya sudah dimulai pada tahun 60-an. Mereka mengkampanyekan homoseksual dapat mengurangi risiko penyebaran HIV/AIDS dan bukan merupakan kelainan mental.

Homoseksual memang tidak dimasukkan kedalam penyakit mental pada “Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder” (DSM-II) sejak tahun 1973. DSM merupakan buku rujukan psikolog dan psikiater seluruh dunia dalam menentukan kategori penyakit-penyakit mental. Pencabutan tersebut akibat desakan politik dan demonstrasi besar-besaran yang merupakan rentetan dari pergerakan hak kebebasan warga kulit hitam di Amerika Serikat pada tahun 1950-an.

Terkait identitas LGBT di Indonesia, hukum dan norma di Indonesia tidak mendukung kehadiran kaum LGBT. Saat ini belum ada undang-undang yang secara tegas menetapkan LGBT sebagai sebuah tindak pidana walaupun akhir-akhir ini DPR RI tengah membahas perluasan pemidanaan pasal perilaku zina dan hubungan sesama jenis atau LGBT. Pembuatan undang-undang yang lamban dan kelonggaran sistem demokrasi yang dianut Indonesia inilah yang kemudian dimanfaatkan untuk propaganda dan mempromosikan LGBT di Indonesia melalui media yang melekat dengan keseharian kita, bahkan sudah masuk ke sekolah-sekolah dengan temeng edukasi padahal didalamnya ada propaganda LGBT. Bila kita lengah dan membiarkan propaganda LGBT terus berlanjut, besar kemungkinan pertumuhan LGBT di Indonesia dengan mudah bertambah banyak.

Jumlah LGBT
Para kaum LGBT tidak sendirian, mereka dibantu dan disponsori oleh perusahaan besar, para publik figur dan bahkan para petinggi negeri. Melegalkan aktivitas kaum LGBT dinegeri ini berarti turut menyebarkan penyakit menular seksual kepada banyak orang, terutama para remaja.

Menurut data Kemenkes RI, LGBT penyumbang semakin tingginya kasus HIV/AIDS setiap tahun, terutama penyimpangan seksual secara homeseksual yaitu gay dan lesbian. Gay (lelaki seks dengan lelaki) adalah penyumbang terbesar kasus HIV/AIDS dibandingkan lesbian. Pada tahun 2012 Kemenkes mencatat ada 1.095.970 kaum gay di Indonesia, dan 66.180 diantaranya mengidap penyakit HIV/AIDS. Sementara kasus HIV/AIDS pada Lesbian belum diketahui secara pasti.

Tingginya risiko peningkatan HIV/AIDS pada LGBT terutama gay disebabkan karena jaringan mereka yang luas, tertutup serta adanya stigma buruk dari masyarakat luas sehingga jangkauan untuk mendeteksi mereka masih sulit dan jarang. Dalam aktivitas sehari-hari kaum gay berpenampilan layaknya pria normal, mereka bekerja, bersosial dan melakoni berbagai jenis profesi lainnya. Bahkan sebagian mereka memiliki istri dan anak. Istri dan anak dari kaum gay ini berisiko tinggi terkena dan menyebarkan infeksi HIV.

Jumlah Kasus HIV/AIDS
HIV dan AIDS adalah dua terminologi yang berbeda yang sering dianggap sama oleh masyarakat. HIV (Human Immodeficiency Virus) adalah suatu jenis virus yang menginfeksi dan merusak sel-sel dari sistem kekebalan tubuh sehingga daya tahan tubuh menjadi lemah dan rentan terkena penyakit.

Seseorang yang yang telah terkena virus HIV belum tentu terlihat sakit. Sementara AIDS (Acquied Immonodifisiency Syndromes) adalah kumpulan gejala atau penyakit yang disebabkan oleh menurunnya sistem kekebalan tubuh akibat terkena HIV yang bila tidak mendapatkan terapi akan menunjukkan tanda-tanda AIDS dalam waktu 8-10 tahun.

Seorang dikatakan AIDS apabila sudah menampakkan berbagai gejala penyakit yang menyerang tubuh akibat hilangnya daya tahan tubuh.
Pada tahun 2017 kumulatif jumlah pengidap HIV/AIDS di Indonesia mencapai 330.152. Kemenkes RI melaporkan pada bulan januari-maret 2017 saja terdapat 10.376 orang positif terifeksi HIV dengan presentasi risiko tertinggi adalah kaum homoseksual, LSL (lelaki seks dengan lelaki) mencapai 28% dibandingkan dengan heteroseksual 24%. Sementara kasus AIDS dikaporkan sebanyak 673 orang dengan risiko LSL (lelaki seks lelaki) 23%. Diperkirakan pada tahun 2020 sekitar 50% kasus HIV disebabkan oleh perilaku homoseksualitas terutama LSL/gay.

Tingginya presentasi penderita HIV/AIDS dapat menganggu kestabilan ekonomi negara. Obat HIV/AIDS ditanggung oleh negera dan dikonsumsi penderita seumur hidup. Untuk pengadaan obat tersebut setiap penderita membutuhkan Rp 254.000-500.000 perbulan.

Pada tahun 2017 terhitung Satu Triliyun Rupiah telah dihabiskan negara untuk pengadaan obat untuk penderita HIV/AIDS.
Penyebab penularan HIV/AIDS pada LGBT
Penyebab tertinggi peningkatan kasus infeksi HIV pada kaum LGBT terutama Gay. secara garis besar diakibatkan oleh dua faktor, yaitu berhubungan seksual yang abnormal (menyimpang) dan berganti-ganti pasangan. Hubungan seksual abnormal yang berisiko tertular HIV seperti kelamin-anus (dubur), kelamin-oral (mulut), kelamin-alat, dan kelamin-tangan. Hubungan seksual melalui anus (dubur) adalah yang paling berisiko terkena HIV/AIDS.

Dalam sebuh penelitian membuktikan hubungan seksual menggunakan dubur 16-21 kali berisiko terkena HIV dibandingkan dengan hubungan seksual normal. Seks dubur mudah menimbulkan luka atau lecet pada struktur anus karena strukturnya lebih ketat dan tanpa lubrikasi sehingga mempermudah masuknya virus HIV kedalam tubuh.

Selain itu faktor berganti-gant pasangan juga sangat beriko terinfeksi HIV karena akan mempermudah terjadinya perpindahan virus HIV dari satu tubuh ke tubuh lainnya. Dalam setahun kaum gay rata-rata melakukan hubungan dengan 20-50 partner seks berbeda dengan durasi 3-6 kali setiap minggunya.

Selain itu homoseksual yang sudah terkena HIV sangat berisiko pula terkena penyakit tumor ganas (kanker). Seperti yang dilaporkan dalam International AIDS Malignancy Conference bahwa lelaki seks lelaki memiliki 37 kali lebih mudah terkena kanker dubur, 4 kali terkena penyakit Hodgkin (tumor pada kelenjar getah bening), 2,7 kali tumor testis dan 2,5 kali lebih mudah terkena kanker bibir.

dr. Al Bukhari,

Saran dan solusi
Mengingat LGBT ancaman serius karena ia dapat dapat menyebarkan infeksi seksual menular terutama HIV/AIDS, membuat kualitas generasi indonesia hancur, ketahanan negara dan perekonomian negara semakin terkuras, maka perlu segera dicari penyelesaian untuk menanggulangi wabah LGBT di Indonesia. Pemerintah dan DPR harus sepekat untuk memberantas LGBT dan merancang perundang-undangan khusus yang berisi perilaku, kampanye dan propaganda LGBT harus dipidana.

Para pendidik di sekolah dan perguruan tinggi harus gencar memberikan pemahaman dampak dan bahaya LGBT serta melakukan kajian dan konsultasi psikologis dan pengobatan bagi pengidap LGBT. Peran masyarakat dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) untuk bekerja sama dengan pemerintah dalam mengkampanyekan bahaya LGBT dan melaporkan pihak yang terindikasi terlibat sebagai pelaku, mengkampayekan dan mempropagandakan LGBT ke pihak yang berwajib serta melakukan bimbingan/ penyuluhan keagamaan dan bila perlu pengobatan-pengobatan kepada pengidap LGBT.

 

Penulis adalah Dr. Al Bukhari,
Dokter Internsip Kabupaten Batang Hari, Provinsi Jambi-alumni FK Unsyiah

Comment

News Feed