by

Teologi Pembebasan Dalam Tiroisme

-Opini, Profil-15 views
Haekal Afifa

Oleh Haekal Afifa*

Ini adalah inti dari ideologi Tiroisme. Manifestasi kalimah Laailahaillallah telah melahirkan ‘abid (Lamiët) dan Kafir (Kafée). Orang yang mengingkari dan menghambakan diri pada selain Allah disebut dengan Kafée dan Lamiët.

Konsekwensi dalam perjuangan menegakkan kalimah Laailahaillah adalah Syahid dan mereka yang terlibat dalam perjuangan ini disebut Jihad. Pondasi ini telah diletakkan oleh Tengku Hasan Tiro saat deklarasi Aceh Merdeka tahun 1976.

Teologi ini pula yang membantah bawah Tiro berontak karena persoalan ekonomi semata. Hal yang paling mendasar dari penolakan Tiro terhadap negara dikarenakan Kalimah ini tidak menjadi pijakan ideologi negara. Dimana seharusnya secara teori, ideologi suatu bangsa dibentuk oleh nilai masyarakat yang berada di dalamnya. Masyarakat adalah instrumen yang melahirkan negara, bukan sebalikanya.

Bagan Teologi Pembebasan Tiroisme

Diksi Teologi Pembebasan inilah yang telah menafsirkan bahwa ruh perjuangan AM berangkat dari nilai tauhid. Hanya saja, menurut amatan dan kajian saya pasca tahun 1998 tafsiran ini menjadi bias sehingga “orang selain Aceh” dipandang berbeda. Padahal Tiro tidak mensyarah-nya demikian.

Tiro mampu menjadikan teologi sebagai spirit perlawanan, menjadikan sejarah sebagai legalitas perjuangan sekaligus nilai superiority Aceh, serta ia mampu ‘mengawinkan’ teori Hukum Internasional – Sejarah – Politik sebagai kekuatan yang saling berhubungan.

*Penulis adalah penterjemah buku buku Hasan Tiro 

 

Comment

News Feed