by

Aceh dalam Propaganda Belanda [Bagian 2]

-Aceh, Artikel-28 views

Oleh Murdani Abdullah *

“Setelah peperangan besar dengan Belanda yang dimulai tahun 1873 dan selesai tahun 1937, tidak ada satu pemimpin Atjèh pun yang hidup, karena semua memilih syahid dalam peperangan daripada hidup menjadi budak Belanda. Teladan ini yang diberikan untuk kita sebagai cucunya, adalah suatu kemutlakan yang tidak bisa dibantah dan tidak perlu menunggu jawaban dari kita…”

Penggalan kalimat pada bagian kata pengantar buku “Aceh di Mata Dunia” yang ditulis Teungku Hasan Muhammad di Tiro.

Aceh tak pernah takluk dari Belanda tapi banyak tatanan sosial yang rusak selama peperangan. Hasutan dan politik pecah belah yang membuat Aceh dari kerajaan yang disegani menjadi daerah yang kehilangan identitasnya.

Politik pecah belah-lah yang membuat daerah berjulukan Serambi Mekkah ini menjadi daerah kecil di ujung Sumatera.

Bercerita soal pecah belah, maka sejarah tak pernah lupa dengan sosok Snouck Hurgronje.

Teungku Puteh demikian ia disebut. Nama ini merupakan panggilan dari masyarakat Aceh kala itu. Layaknya warga Belanda lainnya. Snouck Hurgronje berpostur tubuh tinggi dan berkulit putih. Warna tersebut sangat dominan saat ia berada di tengah-tengah masyarakat Aceh yang berpostur relative pendek dan berkulit sawo matang.

Ia adalah orientalis barat yang mempelajari Islam dengan tujuan untuk menghancurkan Aceh dari dalam.

Untuk menjalankan misinya guna memahami karakter penganut Islam yang dominan di Aceh, Teungku Puteh kemudian belajar ke Arab pada 1894.

Ia harus belajar dulu bahasa Melayu ke Arab pada orang-orang Nusantara yang ada di Arab.

Dalam catatan berbagai tulisan disebutkan, selama di Arab, enam bulan pertama Snouck tinggal di Jeddah, la berhasil bergaul dengan ulama-ulama asal Indonesia sambil terus belajar bahasa Melayu. Seorang ulama Nusantara yang paling dekat dengan Snouck di Jeddah waktu itu adalah Reden Aboe Bakar Djajadiningrat asal Priangan, Jawa Barat.

Malah atas saran dan bujukan Aboe Bakar ini Snouck Hurgronjen kemudian masuk agama Islam di rumah Aboe Bakar di Jeddah pada 4 Januari 1885. Ia kemudian mengganti nama menjadi Abdul Graful.

Sekitar tahun 1893, Teungku Puteh memulai tugas ke Aceh. Ia mulai mendekati dayah-dayah yang menjadi basis gerakan perlawanan Aceh terhadap pendudukan Belanda.

Menurut Snouck, kekuatan Aceh dipengaruhi oleh keyakinan yang dianut oleh masyarakat. Dengan kata lain, untuk mengalahkan Aceh maka Belanda harus mampu memisahkan antara masyarakat Aceh dengan keyakinannya. Memisahkan kerajaan dengan dayah.

Maka dimulailah propaganda-proganda agar kaum dayah menyingkir dari kekuasaan.

Ia mulai mengembangkan pemahaman bahwa dunia ini seperti bangkai. Maka orang yang mengejar dunia atau kekuasaan sama seperti mengejar bangkai. Kaum dayah kemudian mulai terhasut serta mengisolasi diri dalam komplek itu. Di sisi lain, kerajaan kerajaan kecil di bawah kerajaan Aceh juga diadu domba dan mulai berusaha memisahkan diri dari kerajaan Aceh. Konflik ini sangat menguntungkan Belanda.

Pemahaman pemahaman seperti tadi mulai menjalar di Aceh. Di tengah-tengah masyarakat, tumbuh para Ulee Balang baru yang diangkat oleh Belanda. Mereka berpikir lebih sekuler dan bekerjasama dengan Belanda.

Pemikiran yang dicetus oleh Teungku Puteh bertahan hingga sekarang. Bahkan di beberapa dayah besar di Aceh saat ini, masih menempatkan Snouck atau Abdul Graful atau Teungku Puteh sebagai ulama besar yang pernah dimiliki Aceh.

Mundurnya kaum dayah dari puncak kekuasaan dan penunjukan para Ulee Balang baru yang pro Belanda membuat kehidupan bermasyarakat di Aceh sedikit demi sedikit mengarah sekuler. Untuk menandingi pola pendidikan dayah, Belanda kemudian juga membuka sekolah umum sebagai politik balas jasa. Namun sekolah ini pun hanya untuk keturunan para bangsawan yang memiliki hubungan erat dengan Belanda.

Belanda mencoba menguasai hampir semua aspek dalam kehidupan bermasyarakat di Aceh. Tujuannya, agar perlawanan rakyat Aceh dapat terus diminimalisir.

Sayangnya, perlawanan yang dipimpin oleh kaum Agamis yang identic dengan dayah masih terus berkobar di berbagai pelosok Aceh. Walaupun tak lagi sekuat awal-awal masuknya Belanda ke Aceh.

Hal ini terjadi karena Belanda melupakan satu hal yang amat penting dalam tatanan social masyarakat Melayu, dan Aceh khususnya.

Ya, selama melakukan pendudukan terhadap Aceh, Belanda tak pernah memgintervensi persoalan keberangkatan warga Aceh untuk beribadah haji.

Melaksanakan ibadah haji merupakan amalan rukun Islam. Setiap warga yang mampu diwajibkan untuk menunaikan rukun Islam ke 5 itu untuk sekali seumur hidup. Dan ternyata, perlawanan dan penyerangan terhadap pos-pos Belanda di pelosok Aceh, mayoritas dipimpin oleh para pejuang usai pulang dari berhaji.

Semangat jihad berkobar usai sejumlah warga Aceh pulang dari tanah suci. Ini karena selama di tanah suci, warga asal Aceh tak hanya melaksanakan ibadah semata, tapi bertemu dan berdiskusi dengan para ulama lain dari seluruh dunia.

Ada keinginan dari ulama-ulama di Arab agar tatanan kehidupan masyarakat Aceh kembali ke rel semula. Dan untuk mengembalikan keadaan ini, warga Aceh perlu melawan pendudukan Belanda. Tujuannya, pondasi Islam kembali tegak di Aceh.

Gerakan ini ternyata cukup ampuh. Perang gerilya yang dipimpin para teungku usai pulang dari tanah suci berlangsung di seluruh Aceh dan Belanda kewalahan menghadapi taktik perang ini.

Namun Belanda tak tinggal diam. Para petinggi Belanda berkumpul dan mencari akal persoalan di balik masih adanya perlawanan ini. Mereka akhirnya mengetahui bahwa dokrit perlawanan berawal dari para ulama di Arab yang tak senang dengan pendudukan mereka di Aceh.

Untuk mencegah gerakan perlawanan yang bersinambungan, Belanda kemudian mulai ‘mensterilisasi’ warga Aceh yang berangkat ke tanah suci. Warga Aceh yang berangkat haji harus tercatat dan diberi pemondokan dengan alasan tertentu. Demikian juga saat pulang dari tanah suci, warga Aceh diberi pemondokan dengan alasan kesehatan sebelum dikembalikan ke masyarakat.

Warga yang sudah berangkat haji juga harus menyematkan titel ‘Haji’ di depan namanya. Ini untuk memudahkan pemetaan di tengah-tengah masyarakat terkait siapa-siapa saja yang ke tanah suci. Tujuannya, ketika ada penyerangan pos-pos milik Belanda di pedalaman Aceh, maka Belanda bisa dengan mudah mengetahui sumber gerakan tadi. [Bersambung]

Murdani Abdullah, Juru bicara Dewan Pimpinan pusat Suara Rakyat Aceh (SURA)

*Penulis adalah Murdani Abdullah, Juru Bicara DPP SURA dan penulis buku Sang Kombatan serta Martir.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed