by

Ditemukan 2 KG Koin Aceh Di Kuta Baro

Masykur Syafruddin*

Temuan Warga

Petang tadi, dalam kegiatan rutinitas Mapesa di Gampong Lam Alue saya mendapat panggilan dari seorang agen antik yaitu Abu Bakar di Cot Peutano, Kec. Kuta Baro. Beliau menginformasikam bahwa ada temuan warga di Gampong Cot Cut yakni tetangga Gampong Cot peutano dua hari yang lalu, yaitu penemuan 2 KG Koin Aceh yang terbuat dari timah.

Hasil temuan tersebut dijual kepada Pak Abu Bakar, karna beliau agen antik yang terkenal untuk kawasan tersebut. Saya langsung mendatangi kediamannya sebelum adzan maghrib berkumandang.
Sesampai saya kesana beliau mengeluarkan bungkusan berisi koin keuh seberat 1 Kg. Ternyata 1 Kg telah terjual pagi tadi sebelum beliau mengabari saya.

Keuh Bandar Aceh Darussalam yang ditemui di Gampong Cot Cut yang berhasil diselamatkan oleh Saya bersama PEDIR Museum dan Tim Mapesa berjumlah 491 keping + 17 keping yang hancur. Koin tersebut berhasil diselamatkan dengan bantuan donasi dari rekan-rekan Mapesa : Edi Al Rahman Harrys Kelana Buwana Mizuar Mahdi Al-Asyi Tgk Malikulssaleh Al-Alubi.
Kebanyakan koin berasal dari tahun 1260,1261,1270H.

” ضرب في بندر أجه دار السلام 1260

Telah dicetak di Bandar Aceh Darussalam tahun 1260 H (1844 M)”

Kajian Mapesa didalam Aceh Darussalam Academy :

Keuh Bandar Aceh Darussalam

Keuh adalah mata uang yang dibuat dari timah atau kuningan. Orang Portugis menyebutnya dengan Caxa, sedangkan Belanda menyebutnya Kasha. Nilainya: 1600 Keuh sama dengan 1 Kupang (mata uang yang dibuat dari perak). 4 Kupang sama dengan 1 Deureuham (Dirham; mata uang emas).

Pada masa Sultan Syamsul ‘Alam (1723) juga telah ditempa mata uang dari seng (zink) yang dinamakan dengan Keuh Cot Bada. Penamaan tersebut lantaran Keuh ini hanya beredar di wilayah Cot Bada yang memiliki pasar yang ramai. Kurs Keuh Cot Bada: 140 Keuh sama dengan 1 Ringgit Spanyol.

Masa berikutnya, yakni pada zaman Sultan ‘Alauddin Ahmad Syah (1723-1725), dikeluarkan pula pecahan mata uang timah yang juga dinamai dengan Keuh. Sultan menetapkan 800 Keuh tersebut senilai dengan 1 Ringgit Spanyol, dan 1 Ringgit Spanyol pada waktu itu senilai 4 Dirham. Dengan demikian, 1 Dirham sama dengan 200 Keuh.

Pembuatan mata uang Keuh ini, menurut Sejarawan Rusdi Sufi, terus berlanjut sampai dengan masa Sultan A’lauddin Mahmud Syah (1870-1874), menjelang perang Aceh melawan Belanda. Namun, menurutnya, bentuk Keuh yang dikeluarkan oleh masing-masing sultan bervariasi, tergantung nilainya terhadap Ringgit Spanyol (Aceh: Ringgeit Meuriam). Pada kedua sisi Keuh ini terdapat tulisan (inskripsi). Satu sisi, tulisan berbunyi: Bandar Aceh Darussalam, sedangkan pada sisi yang lain tampak tiga figur seperti pedang yang dibaringkan dan di atasnya diberi beberapa buah titik, dan memuat tahun pembuatannya.

Pembuatan mata uang ini memakai tuangan berbahan tembaga atau batu. Acuan-acuan tersebut terdiri atas dua buah balok kecil berukuran sama besar dengan sebuah saluran terbuka di antara keduanya agar timah dapat mengalir ke dalam acuan. Pembuatannya persis sama dengan cara pembuatan peluru-peluru timah pada masa dulu.

Sumber: Rusdi Sufi, “Mata Uang Kerajaan-Kerjaan di Aceh” dalam Pasai Kota Pelabuhan Jalan Sutra, Penyunting: Susanto Zuhdi, Jakarta: Depdikbud, 1993, h. 96-103.

Catatan:

Bentuk yang tampak seperti figur “pedang” pada salah satu sisi Keuh Bandar Aceh Darussalam, hakikatnya, adalah inskripsi yang berbunyi: “Dhuriba fi”, yang berarti: “Dicetak di”.

Secara lengkap, kalimat pada Keuh Bandar Aceh Darussalam itu berbunyi:

1260 ضرب في بندر أجه دار السلام

“1261 (atau angka tahun lainnya sesuai tahun penempaannya), telah dicetak di Bandar Aceh Darussalam.”

Punge Blang Cut, 29 Rajab 1439 H.

Disadur dari status Fb  *Masykur Syafrudin (luengputu Manuskrip Aceh) adalah pemerhati dan pegiat sejarah Aceh.  Eksekutif di Pedir Museum. Mapesa aceh

Comment

News Feed