by

Pesan Kerinduan dalam Pertemuan Anies Baswedan dan Presiden Erdogan di Mesjid Abu Ayyub Al-Anshary

Darlis Aziz

Oleh Darlis Aziz*

Hari jum’at lalu, tepatnya tanggal 20 April 2018 menjadi momen berharga dan sulit dilupakan dalam sebuah hubungan antar dua pemimpin. Walaupun yang satu adalah pemimpin Negara (Presiden Erdogan) dan satunya lagi pemimpin provinsi tepatnya gubernur ibukota negara Indonesia-Jakarta (Anies Baswedan).

Pertemuan yang secara kasat mata nampak disebut hanya sebagai sebuah pertemuan yang “tak disengaja” ini sebenarnya memiliki makna yang sangat mendalam setidaknya bagi saya sebagai salah satu warga Indonesia yang sedang berdomisili di Turki.

Presiden Turky Erdogan dan Gubrrnur DKI Anies Baswedan dalam sebuah pertemuan di Turky

Sebagai negara yang berpopulasi 99% muslim, Turki melihat Indonesia sebagai saudara kandung yang terpisah jauh. Presiden Erdogan tentunya paham akan hal tersebut sehingga setelah shalat Jum’at beliau mengajak Gubernur Anies untuk bertafakkur, membaca surat yasin, berdoa bersama di dalam komplek makam Abu Ayyub Al-Anshary bahkan lebih dari satu jam lamanya, terakhir ditutup dengan sebuah perjamuan luar biasa dengan menghadirkan peninggalan agung berupa jenggot asli Rasulullah Saw.

Orang-orang mungkin akan melihat sekilas pertemuan yang “tidak sengaja” tersebut sebagai pesan yang biasa saja dan tidak memiliki nilai apa-apa, misalnya seorang Presiden yang kebetulan Muslim melakukan shalat Jum’at secara reguler di hari jum’at dan kebetulan bertemu dengan seorang gubernur dari sebuah negara di ujung tenggara asia, berjumpa di Masjid Abu Ayyub Al-Anshary Istanbul.

Namun dari sudut analisis komunikasi semiotik khususnya semiotika kultural, hal ini bukanlah sebuah konstruksi komunikasi yang biasa-biasa saja, akan tetapi secara lebih jauh kita bisa menilai dan menganalisisnya dengan pisau analisis teori semiotiknya Charles Sander Pierce disebut dengan Triangle of Meaning atau semiotika segitiga makna.

Peirce (dalam Littlejohn, 2009:64) mendefinisikan semiosis sebagai “a relationship among a sign, an object, and a meaning (suatu hubungan di antara tanda, objek, dan makna).” Analisis semiotik dapat digunakan untuk menemukan makna dari sebuah tanda termasuk makna tersembunyi dari tanda/kejadian itu sendiri. Makna dari sebuah tanda juga dapat diartikan berbeda antara orang yang satu dengan lainnya. Semiotika menurut Peirce adalah suatu hubungan antara tanda, objek, dan makna. Dapat diartikan ketiganya memiliki hubungan yang erat serta tidak dapat terpisahkan karena saling berpengaruh.

Oleh karena itu saya ingin mempersonifikasikan peristiwa pertemuan Anies Baswedan dengan Presiden Erdogan diatas adalah adanya tanda, objek dan makna. Tanda disni adalah pertemuan, yasinan bareng, dan mencium jenggot Rasulullah Saw. Dari sisi ini mungkin kita bisa menarik beberapa makna yang tersembunyi bahwa pesan ini merupakan sebuah ungkapan komunikasi kultural yang sangat ideologis dan dalam diantara kedua pemimpin muslim tersebut apalagi dalam sebuah suasana yang sakral di tempat yang sakral dan juga di hari yang dimuliakan.

Erdogan mungkin tidak menyampaikan pidato dan pesan apa-apa yang disiarkan oleh media, namun dari sudut semiotis kita bisa menangkap sebuah kerinduan mendalam dalam sebuah hubungan yang sangat akrab dan suasana yang skaral itu telah memberikan jawaban yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata.

Bahkan Gubernur Anies sendiri mengakuinya dan disebarkan dalam beberapa status media sosial beliau, berikut caption dari status beliau yang telah di like lebih dari 70 ribu likers dan lebih dari 5 ribu komentar, saya kutip hari ini dari akun beliau :

“Selesai shalat Jumat, kami berjalan masuk ke ruang kecil dekat Makam Abu Ayyub al-Anshari. Di ruangan itu hanya ada sekitar 20 orang. Presiden Erdogan berada di tengah dan saya duduk di sampingnya.
.
Di ruang kecil itu, kami duduk dengan tenang dan khusyuk. Lalu Presiden Erdogan memulai dengan membaca Surat Yaasiin dan kami ikut membaca. Setelah itu beberapa orang imam di ruangan melantunkan ayat suci Al-Quran secara bergantian selama hampir satu jam.
.
Sembari para imam dan qari’ melantukan ayat-ayat suci, seorang imam menunjukkan suatu barang yang dibungkus kain berlapis. Saya perhatikan ada lebih dari 10 lapis kain berwarna hijau dan putih yang dipakai sebagai pembungkus.
.
Ternyata yang dibungkus itu adalah sebuah botol kecil yang kacanya amat bening dan di dalamnya terlihat sehelai rambut. Botol itu kemudian diletakkan di meja kecil depan Presiden Erdogan, persis di samping tempat saya duduk.
.
Setelah rangkaian pembacaan Al-Quran itu berakhir, seorang Imam memimpin doa yang diamini oleh semua dan dipungkasi dengan Presiden Erdogan melantunkan Al-Fathihah & beberapa ayat pembuka Al-Baqarah sebagai penanda bahwa dzikir selesai.
.
Presiden Erdogan lalu memegang botol itu dan menciumnya. Kemudian ia berikan botol itu pada saya. Saya pun menciumnya. Semua masih hening, suasananya menggetarkan. Bulu kuduk terasa berdiri; apapun sebabnya tapi faktanya adalah terasa merinding.
.
Tahukah apa isinya? Botol yang bening itu menyimpan sehelai rambut dari janggut Rasulullah SAW. Siang itu, kami berdua yang berkesempatan untuk menciumnya.
.
Sebuah pengalaman luar biasa. Itu semua terjadi tanpa direncanakan; Allah Sang Maha Pengatur mentakdirkan semua itu terjadi di sebuah masjid yang dekat dengan sejarah perjuangan, Masjid Eyup Sultan. Fabiayyi ‘aalaa’i rabbikumaa tukadzdzibaan…

Caption itu menurut saya lebih kepada ungkapan suasana hati Gubernur Anies yang merasa terharu dengan jamuan yang tak biasa dari seorang kepala negara terpopuler saat ini di negara-negara Muslim dunia. Apa yang kemudian bisa kita tangkap dalam sebuah peristiwa bersejarah tersebut adalah berupa tanda/simbol dan objek, akan tetapi secara lebih mendalam adalah makna atau interpretasi baik secara denotatif maupun konotatif yang bisa kita tangkap secara lebih jauh.

Simbol berupa pembacaan ayat suci al-qur’an secara bersama-sama adalah sebuah makna kekeluargaan yang lahir atas dasar aqidah dan persaudaraan yang lahir dari rasa memiliki terhadap satu sama lain. Karena rasa memiliki itu sebenarnya tidak hanya terbatas kepada identitas kekeluargaan semata, akan tetapi telah membentuk identitas kultural yang melahirkan pandangan, dan konstruksi realitas yang sama.
Setidaknya hal itulah yang telah disampaikan oleh Ferdinand Saussure seorang pakar semiotik, persepsi dan pandangan kita tentang realitas, dikonstruksikan oleh kata-kata dan tanda-tanda lain yang digunakan dalam konteks sosial.

Kita tidak bisa menutup mata Turki dan Indonesia hari ini merupakan dua Negara Muslim terbesar di Dunia. Indonesia dengan populasi muslim terbesar di dunia tentu menjadi harapan bagi dunia muslim lainnya. Termasuk Turki, bagi Turki, Indonesia merupakan negara sahabat yang sangat strategis. Indonesia dan Turki merupakan dua negara Muslim dunia yang masuk kedalam G-20, atau sebagai 20 negara yang memiliki kekuatan ekonomi terbesar di dunia. Bahkan pada awal april 2018 yang lalu Turki mendapat sebagai negara dengan peningkatan ekonomi terbesar nomor satu dunia mengalahkan negara-negara besar lainnya seperti China, Rusia dan Amerika.

Sebagai sebuah negara besar, tentunya Turki tidak ingin berjalan sendiri, Turki membutuhkan partner yang strategis, dan dari sudut kacamata saat ini partner itu adalah Indonesia. Turki melalui Necmettin Erbakan telah mencoba merintis aliansi negara muslim D-8 akan tetapi gagal.

Sampai dengan saat ini ketika saya berjumpa dengan beberapa aktivis islam di Turki mereka masih bangga dengan model D-8 yang dicetus oleh Erbakan pada tahun 90-an yang lalu itu. Akan tetapi aliansi tersebut belum berhasil melahirkan suatu kerjasama yang betul-betul strategis bagi kemajuan ekonomi antar delapan negara sampai sekarang, hanya satu yang menjadi faktornya, tidak ada kesamaan misi antar pemimpin negara-negara tersebut.

Maka peristiwa yang di mesjid Ayyub kemarin itu, menurut pendapat subjektif saya merupakan harapan terpendam yang diaktualisasikan dalam sebuah kegiatan sakral yang “sekali lagi” tiba-tiba tersebut. Harapan ini tentunya sebuah penantian yang sangat menentukan bagi Turki, karena sampai dengan saat ini hubungan Indonesia-Turki sangat baik akan tetapi kalau dalam kata pepatah ibarat “mau tapi malu” begitulah hubungan bilateral tersebut kalau bisa saya gambarkan saat ini. Hal ini tidak lebih karena belum adanya “political will” yang membuat kedua negara bisa menjalin “cinta” lebih mendalam lagi di masa yang akan datang.

Kalau kita berbicara “Political Will” tentu kita akan berbicara tentang pemimpin karena tentu hubungan antar kedua negara tidak terlepas dari direction sang Pemimpin (baca : Presiden). Kita tentunya berharap presiden Indonesia bisa meningkatkan hubungan kerjasama yang lebih besar lagi di masa yang akan datang. Sebagai contoh kecil saja, dalam bidang pendidikan seharusnya di Turki Indonesia sudah memiliki atase pendidikan sebagaimana di negara-negara lainnya, akan tetapi sampai saat ini di Kedutaan Besar Indonesia di Turki sampai dengan saat ini masih belum ada atase yang khusus mengurusi pendidikan, padahal kalau dilihat dari jumlah mahasiswa Indonesia di Turki telah mencapai lebih dari 1000-an orang. Jadi menurut saya hubungan yang baik ini akan bisa terbangun nantinya jika ada “kesamaan” antar kedua pemimpin negara besar ini kedepannya.

Kembali kepada pesan semiotik yang saya maksudkan di atas adalah bahwa sebuah pesan tersebut bila kita kaitkan dengan komunikasi politik, ini merupakan pesan yang ingin disampaikan seorang presiden kepada “khususnya” rakyat Indonesia. Bahwa kerinduan beliau akan lahirnya seorang pemimpin yang bisa mendekatkan kembali negeri di ujung timur dan barat ini. Semoga kerinduan ini bisa terjawab di 2019 nantinya. Amien

Harapan itu ada dan itu juga merupakan sebuah janji kebangkitan yang disampaikan oleh Rasulullah Saw. Yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Kitab Al-Fitan, Jilid X, halaman 340. Dari Hamisy Qasthalani, : “Innallaha zawaliyal ardha masyaariqaha wa maghariba ha wa a’thonil kanzaini Al-Ahmar wal Abjadh…”. Artinya: “Allah menunjukkan kepadaku (Rasul) dunia. Allah menunjukkan pula timur dan barat. Allah menganugerahkan dua perbendaharaan kepadaku: Merah Putih”. Hadis Qudsi yang disampaikan oleh Allah Swt. Kepada Rasulullah Saw. Tersebut bukanlah sebuah tanda yang kebetulan pula, Apalagi secara susunan warna Bendera Indonesia dan Bendera Turki adalah sama-sama Merah dan Putih (orang turki menyebutnya dengan “Kirmizi – Beyaz” ).

Wallahu’Alam Bishhawwab. Insya Allah Harapan Itu Masih Ada.

Ankara – 22/04/2018

* penulis adalah Mahasiswa Program Master Studi Budaya dan Media di Hacettepe University-Ankara

 

Comment

News Feed