by

Harga Sebuah Ukhuwah Islamiyah

Oleh Saifunsyah 

Setelah kaum muslimin hidup bahagia dan bersatu padu dalam ikatan Ukhuwwah Islamiyah di Madinah. Terhembus gerakan provokasi dan adu domba yang dipelopori oleh gembong-gembong Yahudi yang pada masa itu masih bisa hidup berdampingan dengan kaum muslimin. Kuatnya gerakan ini menyebabkan Kaum ‘Aus dan Khajraj yang kedua-duanya adalah bagian dari Anshar (penduduk madinah asli) hendak berperang kembali karena provokasi dan adu domba tersebut.

Ketika kedua kaum besar ini sudah saling berhadap-hadapan dengan perlengkapan pedang yang siap dihunuskan dan datanglah Baginda Rasulullah Muhammad SAW seraya membacakan Kalam Allah Yang Mulia ini sambil meneteskan air mata:

(وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ)

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.”

(Surat Al-Imran: 103)

Begitu selesai ayat ini dibacakan oleh Rasulullah SAW, para sahabat Anshar dari Kaum ‘Aus dan Khajraj mereka semua meneteskan air mata dan bergetar seluruh jiwa mereka tanpa disadari pedang-pedang yang ada ditangan mereka berjatuhan ke tanah sembari mereka terus mendekat antara satu sama lainnnya bukan untuk berperang tapi kali ini mereka datang bergegas dengan membuka tangannya sembari berpelukan dalam lautan tangis sambil saling memintakan maaf dari saudara-saudaranya atas kekhilafan selama ini gara-gara fitnah, provokasi dan adu domba yang selama ini dilancarkan oleh Yahudi. Demikianlah sekelumit cuplikan peristiwa yang menjadi Asbabun Nuzul (sebab turunnya ayat) Al Maidah 103 tersebut.

Mengambil ibrah dari peristiwa besar ini dan melihat bagaimana pun terjadi perbedaan di antara 4 (empat) orang Imam mazhab, mereka adalah:

1. Imam Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit rahimahullah, dari Kufah, Irak (hidup th 80 H – 150 H).
2. Imam Malik bin Anas rahimahullah, dari Madinah (hidup th 93 H – 179 H)
3. Imam Syafi’i Muhammad bin Idris rahimahullah, lahir di Ghazza, ‘Asqalan, kemudian pindah ke Mekkah. Beliau bersafar ke Madinah, Yaman dan Irak, lalu menetap dan wafat di Mesir (hidup th 150 H – 204 H).
4. Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah dari Baghdad, ‘Irak (hidup th 164 H – 241 H).

Empat ulama ini sangat masyhur di kalangan umat Islam. Kepada empat imam inilah, empat madzhab fiqih dinisbatkan.

Siapapun yang meneliti aqidah para ulama Salafush Shalih, maka ia akan mendapatkan bahwa aqidah mereka adalah satu, jalan mereka juga satu. Para ulama Salafush Shalih tidak berpaling dari nash-nash Al Qur’an dan As Sunnah, dan tidak menentangnya dengan akal, perasaan, atau perkataan manusia. Dan mereka sangatlah menjaga Ikatan Ukhuwwah Islamiyah.

Kita yang hidup diakhir zaman ini seyogyanya belajar dan memahami betapa pentingnya menjaga Ukhuwwah Islamiyah tersebut. Sehingga perkara-perkara yang kecil yang bersifat furu’iyah (cabang) dan sunnat tidaklah kemudian menjadikan kita saling bermusuhan dan merendahkan. Mari kita budayakan sebuah ungkapan ulama dakwah yang masyhur ini “Mari kita berkerjasama pada hal-hal yang kita sepakati, Mari kita bertenggang rasa (toleransi) pada hal-hal yang tidak kita sepakati (berbeda)”.
Pandangan kita boleh berbeda tetapi Ukhuwwah Islamiyah harus tetap dijaga.
Wallahu a’lam bishsawab.

Saifunsyah bersama Istrinya dr. Rosaria Indah

Sydney, 14 Ramadan 1439 H
Akhukumfillah,

Saifunsyah bin Ibrahim

 

Comment

News Feed