by

Partai Islam Menangi Pemilu di Tunisia

Oleh Teuku Zulkhairi – 

Berita kemenangan Partai Islam An-Nahda dalam Pemilu di Tunisia merupakan sebuah kabar baik pekan ini bagi dunia Islam.

Setidaknya, dengan kemenangan An-Nahda maka akan bertambahnya banyak negara-negara yang serius memikirkan masa depan umat Islam yang hari ini terzalimi dimana-mana.

Dilansir Anadolu Agency, An-Nahda mampu meraup 27,5 persen suara, meninggalkan saingan dekatnya Partai Nidaa Tounes dengan 22,5 persen suara.

Kemenangan An-Nahda sebenarnya tidak terlalu mengejutkan meksipun tentu saja harus disyukuri.

Tidak mengejutkan karena memang, Partai-partai Islam di banyak negara mayoritas muslim dalam pentas sejarah terbukti cukup sering memenangi Pemilu apabila tidak ditekan, dibusukkan, atau dibubarkan.

Hal ini misalnya terbukti di negara-negara Muslim yang selenggerakan pemilu, seperti Turki, Palestina, Mesir, Maroko dan lain-lain,

Di Turki, Partai Keadilan dan Pembangunan (AK Parti) mampu terus berkuasa sampai saat ini sejak 2002. Sebelum era AKParti, partai Islam sebelumnya, yaitu Refah juga memenangi Pemilu Turki (kemudian dibubarkan dan pemimpin dikudeta).

Di Mesir, Partai Keadilan dan Kebebasan juga mampu keluar sebagai pemenang saat Pemilu digelar secara jurdil dan demokratis sebelum kemudian dibubarkan dan pemimpinnya, Muhammad Mursi juga dikudeta kalangan militer yang dekat dengan Israel.

Begitu juga di Maroko, dimana Partai Keadilan dan Pembangunan juga mampu keluar sebagai pemenang.

Di Palestina, Hamas juga keluar sebagai pemenang saat pemilu digelar secara jurdil. Dulu, partai Islam (FIS) di Al-Jazair juga mampu memenangi pemilu di negara tersebut sebelum dihancurkan militer dukungan Barat.

Dan kini, Partai Islam An-Nahda juga kembali menang dalam pemilu di Tunisia. Dengan kemenangan An-Nahda, kita berharap semakin banyak negeri muslim yang peduli terhadap masa depan peradaban Islam.

Ada yang bilang, jika seluruh negeri-negeri muslim melaksanakan pemilu secara jurdil dan demokratis, tidak ada pembusukan, maka partai Islam dengan izin Allah pasti keluar sebagai pemenang.

Kemenangan-kemenangan partai Islam ini nampaknya dipengaruhi dua faktor:

Pertama, realitasnya partai-partai sekuler liberal di tengah-tengah umat Islam tidak pernah berhasil mengeluarkan umat Islam dari segudang persoalan kehidupan dunia mereka, konon lagi “membantu” mereka untuk bahagia di akhirat.

Alih-alih membawa kesejahteraan, yang terjadi mereka justru menjadi kaki tangan kepentingan asing dengan menjadi agen asing yang menancapkan kuku-kuku kapitalisme di negeri muslim dimana pada akhirnya terciptalah perbudakan modern lewat berbagai metode dan sarana.

Sebagai contoh, CHP yang didirikan Mustafa Kamal Attaturk kita ketahui pernah membawa Turki menjadi “negara sakit” di Eropa bertahun-tahun lamanya. Kebebasan agama dipasung, korupsi merajalelanya, menjadi komoditas industri.

Begitu juga partai sekuler lainnya di hampir seluruh negeri muslim, hingga saat ini sama sekali tidak pernah berhasil membawa kesejahteraan bagi masyarakatnya.

Alhasil, jangankan kita berharap mereka menyatukan dunia Islam yang tercerai berai dan membantu kaum muslimin yang terzalimi di banyak penjuru dunia, bahkan mereka sempurna menjadi sumber utama problem domestik negeri-negeri muslim.

Kedua, sejatinya semboyan “Islam adalah Solusi” yang dibawa oleh kalangan partai Islam sangat sesuai dengan fitrah dan nurani mereka.

Bagaimanapun, seorang muslim pasti percaya dan tentulah dituntut untuk percaya bahwa Islam betul-betul merupakan solusi atas segudang persoalan domestik umat Islam dan global.

Hanya saja, ketika membawa semboyan ‘Islam adalah Solusi”, maka beban para pengusungnya akan sangat-sangat berat. Para pengusungnya akan dituntut untuk betul-betul menyesuaikan diri antara teori dan praktik. Artinya, para pengusungnya akan sangat diharapkan menjadi “Islam yang berjalan”.

Dan memang, Islam sendiri menuntut demikian, bahwa sebelum kita tawarkan Islam kepada orang lain, maka kita harus mampu mengaplikasikannya dulu pada diri sendiri dan keluarga kita dalam segenap rutinitas kehidupan.

Melihat realitas ini, berbekal pengetahuan Islam, sebagian masyarakat muslim akan memahami bahwa saat seorang muslim berbuat salah, maka bukan berarti ide-ide pembangunan Islam yang mereka kampanyekan harus berhenti diperjuangkan. Apalagi, jika pertimbangan matematis dilakukan, maka partai-partai Islam masih lebih banyak baiknya ketimbang partai sekuler liberal.

Barangkali, itu di antara sebab Partai An-Nahda kembali memenangi pemilu Tunisia. Tapi tentu ini hanya analisa.

 

Comment

News Feed