Sorakan Simpanse dari Istana untuk Anies

CANINDONESIA.COM – 

Apa yang membuat anda kaget saat terjadi insiden riuh sorak sorai di istana pada hari fitri?  Hampir tak ada.  Dan itu difahami oleh Anies – Sandi saat menghadiri Open House di Istana bogor yang digelar oleh sekretariat presiden Jokowi.

Bukan kali ini saja,  sorak-sorai pernah terjadi saat azan mengumandang di salah satu kota di Sumatera.  Saat itu pendukung Ahok yang juga pendukung rezim menggelar aksi dukungan untuk Ahok.  Mereka bersorak  dan melolong deras untuk mengimbangi suara azan yang berkumandang. Sebuah penistaan yang sangat berani.  Netizen melabel sorakan itu umpama simpanse lapar yang kacau dan liar.

Asyari Usman,  seorang jurnalis senior berpandangan berbeda dalam tulisannya yang tajam.  Berikut tulisannya  :

Sorakan di Istana adalah Rekonfirmasi Beda Level Intelektualitas

Sebenarnya sudah lama ada konfirmasi tentang perbedaan level intelektualitas antara Gubernur Anies Baswedan dan para pendukung rezim. Itulah sebabnya Pak Anies merasa tak terganggu ketika disoraki oleh para pendukung rezim sewaktu Pak Gubernur mau masuk ke Istana untuk bersilaturami dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi), di acara “open house” Lebaran.

Menurut Anies, beliau malah tak menyadari adanya insiden penyorakan kalau para wartawan tidak menanyakan itu berulangkali.

Mengapa Pak Gubernur tidak menyadarinya? Karena beliau sama sekali tidak memiliki syaraf yang rusak seperti syaraf-syaraf para penyorak di Istana itu. Artinya, ketika para penyorak menunjukkan level terendah intelektualitas mereka, maka secara otomatis sistem sensor “cerebral cortex” (forebrain) Pak Anies melakukan filterisasi bahwa sorakan itu berasal dari para pemilik otak yang mengalami gangguan. Sehingga, sistem Pak Anies dengan cepat membuat analisis bahwa sorakan itu adalah suara yang biasa saja. Itu yang kemudian mendorong beliau menyalami para penyorak.

Dan, alhamdulillah, sorakan yang muncul akibat gangguan yang dialami oleh para penyorak itu membuat Pak Anies tersenyum. Bagian “lobus frontalis” Pak Anies secepat kilat mengeluarkan perintah untuk tersenyum sebagai isyarat bahwa yang menerima senyuman itu sedang bermasalah. Senyuman yang disuguhkan Pak Anies akhirnya bisa menguasai situasi. Para penyorak berbalik menerima kehadiran Pak Gubernur meskipun satu-dua masih membuat sorakan.

Lantas, apa makna insiden sorakan yang justru tak disadari oleh Pak Anies sendiri?

Jawabannya singkat saja, yaitu merupakan rekonfirmasi tentang perbedaan tingkat intelektualitas Pak Anies dan para penyorak yang malang itu.

Sampai kapan pun, soarakan terhadap Pak Anies tetap akan terjadi. Sebab, kerusakan sistem “lobus temporalis” di otak para penyorak itu kelihatannya akan berlangsung akut.

Jadi, Pak Anies atau siapa pun juga yang berseberangan dengan makhluk sejenis para penyorak itu, harus siap menghadapi kemungkinan terkena sorakan. Sebab, menurut para pakar psikologi, ratapan tentang sesuatu yang sangat mengecewakan seseorang di mata publik, termasuk kekalahan Ahok, akan memerlukan waktu yang lama untuk “recovery process” (proses pemulihan).

Kalau yang disoraki menunjukkan kesabaran, biasanya para penyorak lebih cepat keluar dari situasi yang menyedihkan itu.

(Penulis adalah wartawan senior)

En Harais Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *